MENGAWAL PESANTREN SEBAGAI SISTEM PENDIDIKAN FORMAL

MENGAWAL PESANTREN SEBAGAI SISTEM PENDIDIKAN FORMAL Oleh: Nafhal Huda Abstraksi Bangsa Indonesia merupakan bangsa multidimensi. Bangsa yang ...

MENGAWAL PESANTREN SEBAGAI SISTEM PENDIDIKAN FORMAL
Oleh: Nafhal Huda

Abstraksi
Bangsa Indonesia merupakan bangsa multidimensi. Bangsa yang memiliki segenap kearifan unik yang dengannya mampu mewujudkan kebersamaan hidup manusiawi. Indikator manusiawi, yakni kehidupan yang berbudaya. Selanjutnya, salah satu  wujud dari kebudayaan itu adalah pelaksanaan pendidikan. Pendidikan diamini sebagai syarat mutlak dan utama dalam mencapai kehidupan berbudaya. Bangsa kita sendiri telah memiliki khazanah adiluhung dalam mendidik generasi penerusnya. Khazanah itu mewujud dalam bentuk “sistem pesantren”.
Pesantren telah ada sebelum sekolah formal masa kini hadir. Sistem pendidikan pesantren adalah khas milik Indonesia. Keberadannya melampaui tantangan zaman. Terbukti, sejak zaman walisongo hingga kini ia tetap mampu bertahan di tengah maraknya sistem pendidikan modern. Sistem pendidikan modern (sekolah) baru muncul di Indonesia setelah kedatangan kolonialis Eropa. Sekolah menjadi alternatif pendidikan demi mendapat tenaga kerja murah yang terdidik. Sebagai tandingan, para ulama kemudian mendirikan berbagai madrasah untuk menyeimbangi sekolah, namun tetap concern dengan pendidikan agama Islam.
Kini setelah kemerdekaan, adalah tawaran yang perlu dipertimbangkan, untuk mengembalikan pesantren sebagai sistem pendidikan nasional. Maksudnya, bukan tak layak jika pesantren dijadikan sebagai model pendidikan formal Indonesia, demi suksesi penanaman intelektual sekaligus nilai pada generasi kita. Pesantren telah lama membumi di Nusantara dan karenanya telah sesuai dengan karakter bangsa kita.
Pesantren dan Pendidikan Kita
Pendidikan di Nusantara telah ada sejak sebelum nama Indonesia terlahir. Sebelumnya, masyarakat Nusantara telah mahir dengan segenap kearifannya membangun sistem pendidikannya sendiri yang khas. Kita mafhum, sistem pendidikan termaksud itu yakni berbentuk padepokan, dan terjadi sejak masa Hindu.
Hal ini semakin kukuh dengan ditemukannya berbagai prasasti, yang merupakan produk ilmiah pertama di Indonesia berupa tulisan. Peninggalan-peninggalan semacam ini diperkirakan berasal dari abad ke-4 Masehi, yakni ketika berdiri kerajaan-kerajaan Hindu. Materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial tentang sejarah setingkat SMP pun telah menyampaikan perkara ini.
Pada abad ke-4 tersebut, masyarakat Nusantara lampau mulai mengenal tulisan. Saat itulah zaman Prasejarah atau zaman Nirleka (nir= tidak ada, leka= tulisan) berakhir, digantikan dengan zaman Sejarah. Rekam sejarah mewujudkannya berupa rangkaian abjad pallawa, baik dengan bahasa Sansekerta maupun Melayu Kuno, diukirkan pada sebongkah batu, inilah yang selanjutnya kita sebut denga­­­n Prasasti.
Benih Pesantren
Adanya tulisan-tulisan tersebut adalah indikasi bahwa telah ada pendidikan yang mengajari tradisi baca-tulis. Dalam kisah sejarah sekolah di Indonesia, pendidikan pada masa itu terjadi di tempat-tempat ibadah, perguruan atau padepokan.
Menurut sebagian para ahli sejarah, inilah yang kemudian menjadi benih dari sistem pendidikan pesantren. Setelah Islam datang, segenap model pendidikan tersebut diadopsi dan diakomodir ke dalam bentuk baru dan disesuaikan dengan ajaran Islam. Inilah podok pesantren. Meski demikian, terdapat dua kemungkinan mengenai embrio asal mula bentuk pesantren. Karel A. Steenberink, seorang peneliti asal Belanda, mengatakan tradisi pesantren berasal dari dua pendapat yang berkembang yaitu; pertama dari tradisi Hindu. Kedua, dari tradisi dunia Islam dan Arab itu sendiri.
Selanjutnya, terlepas dari perdebatan usang tentang asal-usul tersebut, pesantren sendiri telah sedemikian banyak menyumbang peranan penting terhadap pembangunan budaya masyarakat kita. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), menyebutkan pesantren sebagai sub-kultur budaya (Wahid, 2001). Menurutnya, pesantren memiliki pola kehidupan yang unik sehingga mampu bertahan selama berabad-abad. Ia pun melakukan rekonstruksi masuknya Islam di Nusantara, setelah melihat bentuk kultural Islam yang olehnya ditemukan dalam tradisi pesantren.
Bentuk Islam di pesantren, khususnya Jawa bersifat sufistik, yang kemudian memberikan efek model keislaman yang sangat akomodatif dengan budaya lokal pra-Islam semisal adaptasi wayang, baik dalam kisah tasawuf maupun format struktur pondok pesantren. Bentuk kultural inilah, yang menandakan terjadinya pribumisasi Islam, kemudian membuat pesantren menjelma sebagai kekuatan kebudayaan independen, yang oleh beliau disebut sebagai sub-kultur. Hal ini kembali diungkapkan oleh Syaiful Arif, salah seorang santri Gus Dur, dalam makalahnya saat penyampaian materi “Kursus Pemikiran Gus Dur” bersama para aktifis mahasiswa PMII di STAIN Kudus (6 Oktober 2012).
Segenap hal yang perlu dipelajari tentang kehidupan terdapat dalam sistem pendidikan pesantren. Kaum santri bukan hanya jago berdoa, melainkan juga mumpuni dalam berpolitik, handal dalam berdagang dan membangun peradaban (Baso, 2013). Ahmad Baso menyebut bahwa kaum santri memegang peran urgen pengejawantahan konsep “Anggemahaken ing desa”yang  dituturkan dalam teks santri, Serat Centini. Dalam pandangan Baso, konsepsi tersebut kemudian dilanjutkan oleh orang-orang NU yang merupakan kaum santri. “Anggemahaken ing desa” di sini, bimakna berjuang demi kesejahteraan dan kemakmuran orang-orang desa. Hal ini dikemukakan dalam karyanya, Pesantren Studies 2a, dan kembali ia kutip dalam “Agama NU” untuk NKRI. Keduanya terbit tahun 2013.
Pada aras ini, pesantren dipahami tak hanya mengajarkan teks-teks suci agama. Lebih dari itu, ia merupakan struktur institusional pendidikan yang pada satu titik mengakulturasi budaya setempat  dan kemudian melahirkan ekses kebudayaan yang berorientasi pada transformasi kultural (Arif, 2009). Barangkali ini juga yang kemudian menjadikannya tetap memiliki daya tarik meski bagi segenap orangtua yang tak sepenuhnya concern dengan agama, tetap mengirim anaknya ke pondok pesantren.
Gus Dur pernah menulis artikel bertajuk Peran Budaya Pesantren, yang berisi tentang simbolisasi wayang dalam konsepsi pesantren. Menurutnya, terdapat tiga bagian mutlak yang membentuk tata pesantren. Ketiganya yakni masjid, ndalem kyai, dan pondok santri. Masjid, yang diilustrasikan sebagai medan Kurusetra, menjelma gunungan di antara baris pandawa dan kurawa. Di sinilah, tempat kyai “menaklukkan” santri yang masih dikuasai oleh hawa nafsu. Terma santri dalam benak Gus Dur, sejajar dengan Kurawa yang masih dalam perjalanan spiritual (salikun) menuju kesempurnaan pandangan (wasilun) kyai.
Dari sini memungkinkan segenap konsekuensi bagi para santri merasakan aserisme yang dikombinir dengan kesediaan melakukan segenap perintah kyai guna memperoleh berkah kyai.  Namun dari sini pula, jiwa santri akan mendapatkan pengalaman yang dengannya kemudian membentuk sikap hidup. Dalam Pesantren sebagai Subkultul, Gus Dur menyebut ini pulalah yang menjadi alasan masih banyaknya orangtua yang berminat menyantrikan putera-puterinya.
Gus Dur mengilustrasikan, beberapa orang tua yang menyantrikan anaknya untuk waktu terbatas saja di pesantren, demi mendapatkan pengalaman psikologis yang dianggap sangat diperlukan oleh sang anak. Sangat menarik, sebagaimana digambarkan, yaitu usaha beberapa pesantren untuk mengembangkan “sekolah umum” seperti SMP dan SMA dalam lingkunganya, dengan pengetahuan agama tidak lagi merupakan profesi utama para santrinya.
Permasalahan
Hemat penulis, hal tersebut niscaya terjadi sebagaimana sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang diakui pemerintah, sementara pesantren sebatas lembaga pendidikan nonformal yang ijazahnya tak laku di lapangan, utamanya pekerjaan. Sekolah sendiri, baru hadir setelah datang kolonial eropa, itu pun setelah beberapa waktu lamanya bangsa kita dijajah. Berdasarkan sejarah ilmiah, bangsa kita baru dikenalkan sekolah-sekolah dengan agak sedikit massif pada akhir abad ke-19, yakni tahun 1848. Pemerintah (dipegang kolonial) semakin menampakkan pedulinya terhadap sekolah-sekolah saat diberlakukan Politik Etis, yang mengedepankan tiga aspek berupa irigasi, edukasi, dan transmigrasi bagi penduduk pribumi terjajah demi balas budi.
Namun ternyata sekolah-sekolah yang diprakarsai kolonial tersebut, tak mengajarkan agama Islam kepada siswanya__sebab memang tenaga pendidik mereka tak beragama Islam. Dari refleksi akan hal ini, kemudian para ulama berinisiatif mendirikan lembaga pendidikan sendiri berupa sekolah agama (diniyyah). Tak hanya melalui jenis sekolah agama, tetapi juga melalui madrasah, surau, dan pesantren yang telah lama ada. Untuk pertama kalinya, Sarekat Islam pada tanggal 21 Juni 1921 resmi mendirikan sekolah di Semarang dengan Kepala Sekolahnya yakni Tan Malaka.
Begitu. Lembaga-lembaga pendidikan agama tersebut hadir menolong rakyat pribumi dalam mempertahankan kehidupan berbudayanya, dengan tetap memberikan pengajaran agama. Dari sini pula, tumbuh semangat nasionalisme yang berakar pada ajaran agama, sehingga semangat melawan kolonialisme tetap dan semakin berkobar dibenak para pelajarnya. Dan lagi pula, peringatan Hari Pahlawan yang selama ini kita rayakan dengan mengheningkan cipta, justeru diilhami oleh perjuangan para santri yang mendapat titah dari kyai dalam epos Revolusi Jihad.
Namun seiring dengan perkembangan zaman, rupanya pemerintah (Indonesia) sudah terlanjur nyaman dengan model lembaga pendidikan yang dibawa oleh kolonial. Setelah merdeka pun, pemerintah resmi NKRI tetap sepakat dengan model lembaga sekolah yang dibawa oleh kolonial tersebut, dan melupa pesantren. Sistem pendidikan pesantren adalah khas milik Indonesia. Keberadannya melampaui tantangan zaman. Terbukti, sejak zaman wali hingga kini ia tetap mampu bertahan di tengah maraknya sistem pendidikan modern.
Tawaran Solusi
Tulisan ini adalah sebuah ajakan reflektif, untuk sekadar menengok kembali dan bertanya, apakah sekolah yang menjadi model sistem pendidikan formal nasional, yang selama ini masih saja menuai banyak permasalahan pelik, sudah sesuai dengan karakter budaya bangsa, atau belum. Kemudian menawarkan strategi alternatif berupa lembaga pendidikan pesantren yang telah lama mentradisi untuk dipertimbangkan dengan seksama sebagai bentuk pendidikan formal nasional. Sehingga, ia tak lagi sebatas lembaga nonformal.
Selanjutnya, tawaran ini pun berkonsekuensi pada reformulasi sejak konsep hingga tataran aplikatif pesantren. Tentu, dengan begini pesantren benar-benar tak hanya menyampaikan pengajaran agama, namun juga banyak menyampaikan ilmu-ilmu alam dan sosial. Namun demikian, pesantren tetap pesantren. Ia menghendaki pengajaran religi-transendental yang lebih ditekankan. Tentu, pesantren kali ini bukan an sich milik Islam, sebab tawaran ini menghendaki pada level nasional. Karenanya, segenap agama yang ada di Indonesia diniscayakan memiliki lembaga ini masing-masing.
Sampai sini, kekhawatiran yang mungkin akan muncul adalah mengenai sektarianisme keberagamaan yang makin kentara. Hal ini bisa di atasi, sebab secara kultural, pesantren memiliki karakter keterbukaan. Bahkan semua mafhum akan hal ini. Lagi pula, bukankah sudah diakui pernyataan Gus Dur, bahwa Hiroko Horikoshi mendapatkan kesimpulan dalam disertasinya tentang peran mendiang Kyai Yusuf Tojiri, pendiri dan pemimpin Pondok Pesantren Cipari (Wanaraja, Garut), melalui kajian empiris yang mempunyai nilai tersendiri setelah sekian lama tinggal di podok pesantren tersebut? Ini artinya, pesantren pun dapat menerima kedatangan orang asing sekalipun.
Kurikulum pelajaran dalam pesantren yang luwes pun, menghendaki santri untuk mengambil pelajaran-pelajaran mana saja yang ia sukai. Penyampaiannya dilakukan selayak kuliah terbuka. Dengan demikian secara psikis-intelektual, santri dapat melaksanakan pembelajaran dengan lebih leluasa dan karenanya lebih mendalam. Sebab apa yang ia pelajari selama itu, adalah benar-benar apa yang ingin ia kuasai. Inilah yang sesampai hari ini belum dicapai oleh sekolah-sekolah.
Sekolah baru akan melaksanakan hal ini setelah sampai pada jenjang menengah atas, itu pun pilihan jurusan telah ditentukan atau diarahkan oleh pihak sekolah. Lagi pula, sekolah dengan paksa masih saja mengikat para pelajarnya dengan berbagai macam pelajaran yang wajib diikuti. Dan, bentuk pelajarannya pun sebatas tataran teoritis, minus praktis. Ini pula yang membedakannya dengan pesantren, sebab pesantren concern dengan pengajaran ilmu-ilmu aplikatif. Bukan begitu?
Tulisan ini sekadar menyampaikan apa yang penulis ingini, sembari mencari-cari referensi untuk melengkapi hal terkait  yang sebelumnya telah penulis ketahui, untuk selajutnya dapat dikatakan ilmiah, meski ternyata masih tagu akibat minim data. Atas bentuk kekhilafan, penulis benar-benar memohon maaf. Segenap kritik dan saran tetap penulis harapkan demi perbaikan. Sekian. Wallahu a’lam.[]
Referensi:
Abdurrahman Wahid, Peran Budaya Pesantren, dalam Harian Kompas, 14/07/2004
Ahmad Baso, 2013, “Agama NU” untuk NKRI, Tangerang: Pustaka Afid
Syaiful Arif, 2009, Gus Dur dan Ilmu Sosial Transformatif, Depok: Koekoesan
Syaiful Arif, Pribumisasi Islam, dalam makalah Kursus Pemikiran Gus Dur, 06 Oktober 2012 di STAIN Kudus


Baca Juga

Pesantren 3769121663966692072

Post a Comment

Comments
0 Comments

emo-but-icon

LIVE RADIO CBFM

item